Teknik Memperpanjang Sediaan Lepas Lambat

1. MELALUI PRINSIP – PRINSIP SECARA KIMIAWI PADA BAHAN OBAT
Perpanjangan kerja pada sediaan lepas lambat dapat dilakukan dengan pembentukan garam, ester atau eter dengan bantuan senyawa adisi, senyawa kompleks atau molekuler bahan obat yang sukar larut sehingga resorbsi menurun. Contoh :
Protamin – Seng – Insulin
Prokain – Penisilin
Ester Hormon Steroid
2. MELALUI FISIOLOGIS ATAU FARMAKOLOGIS PADA INDIVIDU
a.Pemilihan lokasi pemakaian, dengan implan misalnya implan dapat dicapai kerja bulanan, contoh tablet implan bulanan, yang mengandung hormon.
b.Melalui penghambatan enzim(kolneterase), yang menghambat inaktivasi obat
c.Penghambatan eliminasi melauli ginjal, dengan pemblokir ginjal (Contoh : probenacid, thiosemikarbon, asam p-aminohidrat)
Untuk pemilihan lokasi pemakaian dalam tubuh untuk obat sediaan lepas lambat oral, ada beberapa tempat. Yaitu :
1. Lambung
Lambung merupakan suatu organ pencampur dan pensekresi di mana makanan dicampur dengan cairan cerna dan secara periodik dikosongkan ke dalam usus halus. Akan tetapi gerakan makanan dan produk obat dalam lambung dan usus halus sangat berbeda tergantung pada keadaan fisiologik. Dengan adanya makanan lambung melakukan fase “digestive” dan tanpa adanya makanan lambung melakukan fase “interdigestive”. Selama fase digestive partikel – pertikel makanan atau partikel – partikel padat yang lebih besar dari 2 mm ditahan dalam lambung, sedangkan partikel – partikel yang lebih kecil dikosongkan melalui sphincter pilorik pada suatu laju order kesatu yang tergantung pada isi dan ukuran dari makanan. Selama fase interdigestive lambung istirahat selama 30 – 40 menit sesuai dengan waktu istirahat yang sama dalam usus halus. Kemudian terjadi kontraksi peristaltik, yang diakhiri dengan housekeeper contraction. Suatu obat dapat tinggal dalam lambung selama beberapa jam jika diberikan selama fase digestive, bahan – bahan berlemak, makanan dan osmolitas dapat memperpanjang waktu tinggal dalam lambung. Di samping itu, bila obat diberikan selama fase interdigestive, obat berpindah secara cepat ke dalam usus halus. Pelarutan obat dalam lambung juga dapat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya makanan. Harga normal pH lambung pada istirahat adalah 1, bila ada makanan pH sering naik menjadi 3 – 5 disebabkan adanya pendaparan bahan makanan. Suatu obat diuji secara In Vitro dengan Hcl 0,1 N melepaskan obat pada laju order nol, dapat tidak melepaskan obat pada laju yang sama pada pH 3 – 5.
2. Usus Halus
Bagian proksimal dari usus halus mempunyai pH sekitar 6 sehubungan dengan netralisais asam dengan bikarbonat yang disekresi oleh duodenum ddan pankreas. Dengan adanya mikrovili usus halus memberi suatu luas permukaan yang sangat besar untuk absorbsi obat. Waktu transit dalam usus halus suatu sediaan padat dari 95% populasi disimpulkan sekitar 3 jam atau kurang. Untuk memperkirakan waktu transit, berbagai penelitian telah dilakukan dengan menggunakan uji lactulose hidrogen yang mengukur penampakan hidrogen dalam nafas penderita (laktulosa dimetabolisme secara cepat oleh bakteri – bakteri didalam usus besar yang menghasilkan hidrogen yang secara normal tidak terdapat dalam pernapasan orang). Hal ini sesuai bahwa waktu transit G1 yang relatif pendek dari mulut ke cecum yaitu 4 – 2,6 jam. Jarak ini disimpulkan terlalu pendek untuk sedian sustained release yang bekerja sampai 12 ajm, kecuali kalau obat untuk diabsorbsi dalam kolon. Kolon mempunyai sedikit cairan dan bakteri yang berlimpah yang dapat membuat absorbsi obat tidak menentu dan tidak sempurna.waktu transit untuk pellet telah diteliti dalam bentuk disentegrasi yang keduanya menggunakan bahan radiopaq tidak larut dan terlarut. Sebagian besar pellet yang tidak larut dilepaskan dari kapsul setelah 15 menit , setelah 3 jam pellet telah tersebar dalam lambung dan sepanjang usus halus. Pada waktu 12 jam seluruh pellet berada pada kolon ascending dan setelah 24 jam berada pada kolon descending yang siap memasuki rektum.
3. Usus Besar
Dalam kolon ada sedikit cairan dan transit obat diperlambat, absorbsi obat dalam daerah ini tidak banyak diketahui, meskipun obat tak terabsorbsi yang mencapai daerah daerah ini dapat dimetabolisme oleh bakteri.obat – obat diabsorbsi cepat bila diberikan dalam sediaan rektal. Tetapi laju transit dipengaruhi oleh kecepatan defekasi. Mungkin obat – obat yang diformulasi untuk 24 jam akan tinggal dalam daerah ini untuk diabsorbsi. Ada sejumlah produk sustained release yang diformulasi untuk memperoleh keuntungan dari kondisi fisiologis saluran GI. Butir – butir salut enterik telah terbukti melepaskan obat lebih 8 jam bila digunakan bersama – sama makanan, sehubungan dengan pengosongan butir – butir salut enterik berangsur – angsur ke dalam usus halus. Formulasi khusus floating tablet yang tetap tinggal di bagian atas lambung telah digunakan untuk memperpankang waktu tinggal obat dalam lambung. Untuk pengobatan yang manjur, tidak satupun metode ini memberikan keterandalan yang cukup konsisten. Penelitian eksperimental yang lebih banyak dalam bidang ini masih diperlukan.

**DAFTAR PUSTAKA
Shargel, Leon dan Andrew B. C. Yu, 1988, Biofarmasetika dan Farmakokinetik Terapan, Airlangga University Press, Surabaya.

Syukri, Yandi, 2002, Biofarmasetik, UII Press, Yogyakarta