Merasa bersalah atas Pembantaian Muslim Bosnia, Pemerintah Serbia Resmi Minta Maaf

Presiden Serbia Tomislav Nikolic
Presiden Serbia Tomislav Nikolic
REPUBLIKA.CO.ID, BEOGRAD — Pemerintah Serbia resmi meminta maaf atas pembantaian kelompok Muslim Bosnia yang dilakukan negara itu pada 1995. Presiden Tomislav Nikolic menyatakan permohonan maaf terhadap umat Muslim Bosnia dan seluruh dunia atas luka lama tersebut.

“Saya memohon dengan berlutut untuk pengampunan atas kejahatan Serbia di Srebrenika,” kata Nikolic, melalui wawancara resminya di Televisi Nasional Bosnia, dan dilansir Aljazirah, Kamis (26/4).

Kata dia, pernyataan itu adalah pengakuan atas kesalahan di masa lalu. Aljazirah melansir pernyataan Nikolic adalah ‘gempa politik’ yang dapat membuka sakit hati. Selama ini, kejahatan kemanusian terhadap Muslim Bosnia di negara itu tak pernah ditelisik mendalam. Pemerintahan di Beograd-pun seakan tutup mulut.

Padahal internasional menyatakan, pembantain dalam Perang Yugoslavia itu adalah salah satu kejahatan yang paling memilukan sepanjang sejarah Eropa pasca-Perang Dunia II. Bahkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyatakan beberapa pelaku kejahatan tersebut adalah penjahat kemanusian.

Nikolic mengakui pertikaian berdarah dua dekade silam itu tidak semestinya terkubur. Apalagi dibiarkan tanpa adanya pengampunan. “Saya meminta maaf atas kejahatan yang dilakukan secara individu atau pun atas nama negara yang ditujukan terhadap rakyat kami dan Muslim,” ujar dia.
Sedikitnya 8.000 Muslim Bosnia dibunuh dengan sengaja oleh tentara Serbia pimpinan Jenderal Ratco Mladic pada 1995. Kejadian berdarah itu adalah buntut dari pecahnya Yugoslavia pada 1990-1992 dan disusul perang komunal antara etnis Muslim Bosnia dan Kristen Serbia.

Sumber: Republika.online