Miangas, yang terdepan yang tertinggal

Suara debur ombak dan desau angin sesekali mengiringi upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-105 yang berlangsung di lapangan Desa Miangas, Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Senin (21/5). 

Seolah-olah mereka turut bersenandung merayakan kegembiraan masyarakat pulau yang menjadi etalase Indonesia di bagian paling utara itu.

Hari itu masyarakat Miangas berkumpul di lapangan satu-satunya Desa Miangas yang berhadapan langsung dengan laut untuk mengikuti upacara bendera. 

Para pelajar berbaris rapi sambil memegang satu persatu Bendera Merah Putih yang diikatkan di tiang bambu. Mamak-mamak dan bapak-bapak berkerumun di sekitar lapangan. 

Rentetan pohon kelapa menjadi latar upacara yang dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang serta pejabat pemerintah daerah terkait. 

“Di sini kami hadir bersama-sama untuk menancapkan semangat kebangkitan nasional di titik terdepan Indonesia. Ini adalah pulau kebanggaan Indonesia. Pulau ini sempat diklaim Filipina, di sini Merah Putih masih tegak berdiri dan Miangas bukan pulau terluar Indonesia tetapi terdepan,” ujar Roy Suryo, disambut gemuruh tepuk tangan warga. 

Kehadiran pemerintah memang bagaikan cambuk semangat bagi sekitar 700 penduduk yang mendiami pulau seluas 3.2 km tersebut. Seperti yang disampaikan Bupati Kepulauan Talaud Constantine Ganggali, hal ini sebagai penegasan kepada dunia bahwa Miangas adalah milik Indonesia dan menjadi pulau kebanggaan.

“Kehadiran pemerintah pusat dan provinsi akan memberi semangat bagi masyarakat di sini untuk menyerukan kepada dunia bahwa Miangas merupakan milik NKRI dan diperjuangkan bersama-sama oleh masyarakat Indonesia,” kata Constantine Ganggali.

Pulau Miangas merupakan pulau terdepan di bagian utara Indonesia. Namun, jaraknya yang lebih dekat dengan Pulau Davao, Filipina (sekitar 48 mil laut) kerap membuat Miangas dimasukkan sebagai bagian dari negara Filipina, yang hingga kini masih ditampilkan oleh aplikasi jejaring Google Maps.

“Perjuangan kita belum selesai untuk pengakuan internasional bahwa Miangas masuk wilayah Indonesia. Karena di dunia maya, Miangas masih masuk negara Filipina. Mari sama-sama berjuang sampaikan kepada dunia bahwa Pulau Miangas ini masuk dalam negara Indonesia,” ujar Roy. 

Terisolasi

Pulau Miangas yang terletak di tepi Samudera Pasifik, membuat pulau tersebut bagaikan terisolasi. Jika gelombang laut sedang tinggi, masyarakat hanya bisa berdiam di pulau. Begitu juga sebaliknya, kapal-kapal pun urung merapat ke sana. Bahkan kalau air pasangnya tinggi bisa menjangkau hingga 200 meter ke daratan.

Padahal warga Miangas harus berlayar ke kota untuk berbelanja kebutuhan hidup. Mereka harus menempuh semalaman suntuk jika ingin berbelanja ke Tahuna, Kabupaten Kepulauan Talaud. Dan kalau ingin berbelanja ke Manado, mereka bisa menghabiskan waktu hingga empat hari.

Alternatifnya, warga yang kebanyakan nelayan itu pun berbelanja di Filipina sembari mencari ikan. 

“Biasanya kami barter barang. Tetapi di sini kan juga ada kantor konsulat Filipina (Border Crossing Agreement), jadi bisa juga tukar uang peso untuk belanja di sana,” kata salah satu penduduk, Reni.

Namun, Reni menampik bahwa barang-barang yang digunakan masyarakat kebanyakan dari Filipina.

“Mungkin itu dulu, sekarang banyak juga ambil dari kota karena diimbau Pak Camat untuk menggunakan produk negara sendiri,” tambahnya.

Persoalan lainnya, kapal perintis Melikunusa yang menjadi angkutan satu-satunya penyambung Miangas dengan wilayah lainnya hanya singgah dua minggu sekali. 

“Sebenarnya ada dua kapal perintis lainnya, Kapal Berkat dan Kapal Sangian. Tetapi kalau angin kencang atau gelombang sedang tinggi, dua kapal itu tidak bisa menembus sama sekali. Padahal cuaca di sini suka berubah,” kata Alim, salah satu polisi militer yang bertugas berjaga di Pulau Miangas bersama sembilan rekannya. 

Maka, untuk mengantisipasinya Alim bersama rekan-rekannya yang menempati Pos Marinir di Pulau Miangas itu biasanya langsung berbelanja kebutuhan selama sebulan di Tahuna. 

“Masalah di sini selain transportasi juga komunikasi dan penerangan,” tambah Alim.

Tertinggal

Fasilitas yang serba terbatas memang membuat Pulau Miangas yang terbentang jauh sekitar 320 mil laut dari Kota Manado, Sulawesi Utara, akhirnya tertinggal.

Harga BBM yang mahal, kapal yang hanya dua minggu sekali singgah, sinyal telepon yang tersendat-sendat, dan listrik yang belum 24 jam menyala adalah “makanan sehari-hari” warga di sana. Akibatnya pergerakan ekonomi di sana pun menjadi terseok-seok. Padahal, Miangas sangat berpotensi untuk menjadi tujuan wisata dan penghasil kopra.

Selain itu, pelajar di Miangas juga belum mengenal komputer. Pulau Miangas memiliki masing-masing satu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah kejuruan kelautan.

“Sebenarnya semangat pendidikan di sini tinggi, hanya kendalanya dalam media pembelajaran. Ketika mereka harus mengenal alat-alat canggih seperti komputer atau laptop, di sini belum ada. Maka saya berharap sekali kepada pemerintah untuk pengenalan media komputer dan internet,” kata Kepala Sekolah SD Miangas Rita Matama.

Rita menambahkan tenaga pengajar di sekolah Miangas juga belum ada yang sarjana. 

“Dengan pendidikan sekarang, seorang pengajar harus sarjana. Tetapi kendalanya kalau kami mau kuliah juga jauh dari kabupaten,” ujar Rita yang telah mengajar selama 20 tahun.

Harapan

“Di sini kapal saja susah apalagi kalau sudah musim angin kencang,” kata salah satu warga Dorkas Lantaah yang biasa menjual kopra Manado setiap tiga bulan ke Manado.

Dorkas menjual kopra seharga Rp3500 per kilo. Penghasilannya tidak seberapa ditambah lagi jika cuaca sedang buruk. Angin kencang dan gelombang laut yang tinggi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Miangas. Namun bukan itu yang mereka keluhkan. Bagi Dorkas dan warga lainnya, transportasi yang memadai adalah mimpi mereka untuk bisa merasa lebih dekat dengan wilayah Indonesia lainnya, bukan Filipina.

“Mudah-mudahan kapal diperbanyak ya,” harapnya.

Secercah harapan dengan rencana dibangunnya bandara perintis pun bisa menjadi cambuk semangat masyarakat Miangas.

“Kami akan meningkatkan fasilitas perhubungan di Miangas. Tahun ini akan dibangun landasan perintis sehingga nantinya ada penerbangan di sini,” kata Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang.

Pembebasan lahan landasan perintis seluas 1200×175 meter persegi di atas areal kebun kelapa saat ini masih berlangsung. Menurut Kepala Desa Miangas, Suwardi Padeng, pembangunan rencananya dimulai Agustus tahun ini.

“Semoga ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Miangas,” ujar Suwardi, kepala desa yang berusia 28 tahun itu.

Suwardi juga berharap pemerintah memberikan fasilitas beasiswa kepada pelajar Miangas yang ingin melanjutkan universitas sehingga nantinya mereka akan kembali ke Miangas dan membangun bersama-sama pulau yang menjadi benteng Indonesia di ujung utara itu.

Sehingga nantinya, Pulau Miangas akan menjadi pulau terdepan yang tidak tertinggal. Dan meskipun jauh di tepi Samudera Pasifik, Miangas tetap terasa “tetap” dekat dengan Indonesia.

“Sekalipun di ujung, kami tetap cinta Indonesia,” tambahnya. 

Sumber : Antara